USU, suarausuonline.com — Bintang Medan FC harus mengakui keunggulan Jakarta 1928 setelah dipecundangi dengan skor 1-0, Minggu (20/2) di Stadion Teladan Medan. Gol semata wayang Jakarta 1928 dicetak oleh penyerang anyarnya Emanuelle De Poras melalui tandukannya.
Permainan berjalan dengan tempo sedang. Selama babak pertama hanya dua peluang matang saja yang mampu diciptakan ke dua tim. Bintang Medan FC mampu mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu di menit ke-15 melalui tandukan penyerang Korea, An, setelah menerima umpan Rochmad Dwi Ady. Namun tandukannya hanya tipis di kiri gawang Jakarta 1928 yang di jaga Rahmat. Jakarta 1928 tak mau tertinggal, di menit ke-33 sundulan San San masih belum mampu mengubah angka.
Duet penyerang Jakarta 1928, De Poras-San San yang diturunkan sejak awal pertandingan ternyata belum mampu membuahkan hasil. Bambang Nurdiansyah, pelatih Jakarta 1928, mencoba menukar Hendra Bayou diduetkan dengan De Poras pada babak ke dua. Taktik ini terbukti berhasil, De Poras mampu mengoyak jala Bintang Medan setelah menerima umpan Sansan di menit ke-48.
Setelah turun minum ke dua, tim masih bermain dengan tempo sedang. Bintang Medan FC mencoba mengejar angka di lima menit terakhir. Peluang emas didapatkan Bintang Medan FC melalui tendangan penyerang mungil mereka, Yoseph Ostanika. Namun masih membentur mistar gawang di menit ke-40.
Hujan cedera menerpa Bintang Medan FC. Sebelumnya dua pemain utamanya, Syamsul Bahri dan Cosmin harus absen pada pertandingan ini karena cidera. Kemudian disusul Amine Kanoun dan Rochmad yang harus ditarik keluar lapangan pada pertandingan.(M. Januar)
Sabtu, 02 April 2011
Bintang Medan Ditahan Imbang di Kandang
Medan, suarausu-online.com — Setelah kalah dalam pertandingan sebelumnya, Bintang Medan kembali tak mampu mendapatkan poin penuh saat menjamu Persebaya 1928 di Stadion Teladan, Jumat (4/3). Kedua tim harus rela berbagi angka dengan skor 1-1.
Bintang Medan tertinggal terlebih dahulu oleh gol Otavio Dutra di menit 15. Umpan lambung yang dilepaskan Rendi Irawan memudahkan Otavio menanduk bola dan menggetarkan gawang Bintang Medan yang dikawal Decky Ardian Cahyadi.
Persebaya 1928 mampu mengambil jalannya pertandingan di babak pertama. Terbukti, dalam waktu 15 menit Persebaya 1928 mencetak angka terlebih dahulu. Bintang Medan yang tampil kurang ngotot di babak pertama hanya mampu menciptakan satu peluang melalui Cosmin Vansea di menit 45. Namun tendangannya ditahan penjaga gawang Persebaya 1928.
Memasuki babak ke dua Bintang Medan mencoba tampil lebih agresif. Beberapa peluang mampu diciptakan anak asuh Michael Fichiten ini.
Gol penyeimbang Bintang Medan akhirnya datang di menit 49 melalui Yoseph Ostanika. Yoseph memanfaatkan tendangan sudut Gaston Salasiwa dan berhasil memasukan bola ke gawang Persebaya 1928. Bintang Medan mampu menciptakan beberapa peluang. Di menit 56 memanfaatkan tendangan bebas An, namun masih mampu ditepis Endra.
Meskipun kedua tim mencoba tampil menyerang, namun sampai akhir pertandingan tak ada gol yang tercipta. “Padahal target kami harus menang, namun Persebaya 1928 tampil bagus. Saya pikir hasil malam ini cukup,” ucap Michael saat jumpa pers.
Pertandingan sempat terhenti akibat lampu stadion mati. Namun dilanjutkan kembali setelah 22 menit kemudian.(M. Januar)
Bintang Medan tertinggal terlebih dahulu oleh gol Otavio Dutra di menit 15. Umpan lambung yang dilepaskan Rendi Irawan memudahkan Otavio menanduk bola dan menggetarkan gawang Bintang Medan yang dikawal Decky Ardian Cahyadi.
Persebaya 1928 mampu mengambil jalannya pertandingan di babak pertama. Terbukti, dalam waktu 15 menit Persebaya 1928 mencetak angka terlebih dahulu. Bintang Medan yang tampil kurang ngotot di babak pertama hanya mampu menciptakan satu peluang melalui Cosmin Vansea di menit 45. Namun tendangannya ditahan penjaga gawang Persebaya 1928.
Memasuki babak ke dua Bintang Medan mencoba tampil lebih agresif. Beberapa peluang mampu diciptakan anak asuh Michael Fichiten ini.
Gol penyeimbang Bintang Medan akhirnya datang di menit 49 melalui Yoseph Ostanika. Yoseph memanfaatkan tendangan sudut Gaston Salasiwa dan berhasil memasukan bola ke gawang Persebaya 1928. Bintang Medan mampu menciptakan beberapa peluang. Di menit 56 memanfaatkan tendangan bebas An, namun masih mampu ditepis Endra.
Meskipun kedua tim mencoba tampil menyerang, namun sampai akhir pertandingan tak ada gol yang tercipta. “Padahal target kami harus menang, namun Persebaya 1928 tampil bagus. Saya pikir hasil malam ini cukup,” ucap Michael saat jumpa pers.
Pertandingan sempat terhenti akibat lampu stadion mati. Namun dilanjutkan kembali setelah 22 menit kemudian.(M. Januar)
PSMS Medan Hantam PSSB Bireuen 3-0
Medan, suarausu-online.com — PSMS Medan hantam PSSB Biereuen dengan skor 3-0 di Stadion Teladan, Sabtu (5/2). Satu gol bunuh diri dari pemain PSSB Bireuen serta dua gol berikutnya dicetak Alfian Habibi dan Ari Yuganda dari PSMS Medan.
Sejak menit awal PSMS sudah mengambil alih jalannya pertandingan. PSMS mampu membuat pertahanan PSSB Biereuen panik. Pertandingan baru berjalan delapan menit, PSMS unggul karena gol bunuh diri pemain belakang PSSB Bireuen ketika menghalau tendangan Donny Fernando Siregar.
PSMS terus tampil menekan, peluang didapat Alfian Habibi di menit 12, namun tendangannya masih tipis di sebelah kanan gawang PSSB Bireuen yang dikawal Didik Wisnu. Di menit 30 PSMS kembali mendapat peluang emas melalui sundulan kepala Vaqner Luis namun masih tipis di kanan gawang Bireuen.
Akhirnya usaha anak asuhan Suharto ini menambah angka. Lima menit sebelum turun minum, Alfian Habibi memanfaatkan bola liar di luar kotak pinalti. Tendangan kerasnya mampu menggetarkan gawang PSSB Bireuen menjadi 2-0.
Di babak kedua PSSB Biereuen belum mampu keluar dari tekanan PSMS Medan. Rinaldo yang menggantikan Tri Yudha Handoko di menit 65 menambah daya serang tim berjuluk Ayam Kinantan ini. Satu menit kemudian Rinaldo mampu menembus pertahanan PSSB Bireuen namun tendangannya masih di atas gawang.
Meski tampil menyerang, PSMS harus menunggu hingga menit ke 90 untuk menambah angka. Vaqner Luis yang tampil impresif pada pertandingan malam ini menusuk sisi kiri pertahanan PSSB Biereuen. Vaqner berhasil melepaskan umpan lambung ke dalam kotak pinalti yang disambut tandukan Ari Yuganda. Tandukannya menambah angka menjadi 3-0 sebelum peluit panjang ditiupkan.
Helmi Abdullah, asisten pelatih PSSB Bireuen, mengeluhkan pertandingan yang diadakan malam hari. “Kami tidak pernah main di malam hari sehingga kami tak terbiasa,” ucapnya saat jumpa pers.
Hasil ini membawa PSMS naik satu peringkat ke posisi lima dan menggeser Persita Tanggerang. Kini PSMS terpaut delapan poin oleh pimpinan klasmen sementara Persiraja. (M. Januar)
Sejak menit awal PSMS sudah mengambil alih jalannya pertandingan. PSMS mampu membuat pertahanan PSSB Biereuen panik. Pertandingan baru berjalan delapan menit, PSMS unggul karena gol bunuh diri pemain belakang PSSB Bireuen ketika menghalau tendangan Donny Fernando Siregar.
PSMS terus tampil menekan, peluang didapat Alfian Habibi di menit 12, namun tendangannya masih tipis di sebelah kanan gawang PSSB Bireuen yang dikawal Didik Wisnu. Di menit 30 PSMS kembali mendapat peluang emas melalui sundulan kepala Vaqner Luis namun masih tipis di kanan gawang Bireuen.
Akhirnya usaha anak asuhan Suharto ini menambah angka. Lima menit sebelum turun minum, Alfian Habibi memanfaatkan bola liar di luar kotak pinalti. Tendangan kerasnya mampu menggetarkan gawang PSSB Bireuen menjadi 2-0.
Di babak kedua PSSB Biereuen belum mampu keluar dari tekanan PSMS Medan. Rinaldo yang menggantikan Tri Yudha Handoko di menit 65 menambah daya serang tim berjuluk Ayam Kinantan ini. Satu menit kemudian Rinaldo mampu menembus pertahanan PSSB Bireuen namun tendangannya masih di atas gawang.
Meski tampil menyerang, PSMS harus menunggu hingga menit ke 90 untuk menambah angka. Vaqner Luis yang tampil impresif pada pertandingan malam ini menusuk sisi kiri pertahanan PSSB Biereuen. Vaqner berhasil melepaskan umpan lambung ke dalam kotak pinalti yang disambut tandukan Ari Yuganda. Tandukannya menambah angka menjadi 3-0 sebelum peluit panjang ditiupkan.
Helmi Abdullah, asisten pelatih PSSB Bireuen, mengeluhkan pertandingan yang diadakan malam hari. “Kami tidak pernah main di malam hari sehingga kami tak terbiasa,” ucapnya saat jumpa pers.
Hasil ini membawa PSMS naik satu peringkat ke posisi lima dan menggeser Persita Tanggerang. Kini PSMS terpaut delapan poin oleh pimpinan klasmen sementara Persiraja. (M. Januar)
Pendidikan Indonesia ke Arah Neoliberal
Jakarta, suarausu-online.com — Konsep pendidikan yang seharusnya menjadi hak bagi seluruh warga negara sesuai dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sudah mulai dilupakan oleh pemerintah. Hal ini disampaikan oleh Prof HAR Tilaar, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam Seminar Nasional Telaah Kritis Pendidikan Indonesia di Aula Perpustakaan UNJ, Senin (10/1).
Terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang tak lagi pro rakyat dan mengarah pada paham neoliberal. Salah satu kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat adalah adanya kelas-kelas internasional di sekolah hingga bangku perkuliahan.
Hal ini menurut Prof HAR Tilaar jelas mengangkangi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. “Tampaknya pemerintah sudah buta, harusnya pemerintah membentuk satu sistem yang mengatur pendidikan nasional berdasarkan UUD 1945,” ucapnya.
Ia menjelaskan adanya kelas internasional akan menciptakan strata-strata baru dalam dunia pendidikan. “Dengan adanya kelas internasional tidak lagi dengan satu sistem pendidikan nasional dan hanya tertuju pada profit saja,” ujarnya.
Arif Wahyudin, salah satu peserta dari LPM Jumpa, Universitas Pasundan, menganggap kebijakan pemerintah tersebut tak berpihak pada rakyat miskin. “Kebijakan ini hanya menguntungkan satu pihak saja. Sebaiknya pemerintah terlebih dahulu meningkatkan kualitas pendidikan di nasional,” tutur Arif.
Beberapa kebijakan lain adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 tahun 2010 tentang Badan Layanan Umum Pendidikan. Menurut Prof HAR Tilaar, PP ini hanyalah ‘baju baru’ saja dan tak ada bedanya dengan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan. “PP itu hanya membuka kesempatan baru bagi kapitalis saja,” ujarnya.
Seminar pendidikan ini merupakan rangkaian acara dari Pekan Nasional Pers Mahasiswa (Pena Emas) yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ selama satu minggu (10-17/1) di UNJ.Oleh Sandra Cattelya/M. Januar
Terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang tak lagi pro rakyat dan mengarah pada paham neoliberal. Salah satu kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat adalah adanya kelas-kelas internasional di sekolah hingga bangku perkuliahan.
Hal ini menurut Prof HAR Tilaar jelas mengangkangi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. “Tampaknya pemerintah sudah buta, harusnya pemerintah membentuk satu sistem yang mengatur pendidikan nasional berdasarkan UUD 1945,” ucapnya.
Ia menjelaskan adanya kelas internasional akan menciptakan strata-strata baru dalam dunia pendidikan. “Dengan adanya kelas internasional tidak lagi dengan satu sistem pendidikan nasional dan hanya tertuju pada profit saja,” ujarnya.
Arif Wahyudin, salah satu peserta dari LPM Jumpa, Universitas Pasundan, menganggap kebijakan pemerintah tersebut tak berpihak pada rakyat miskin. “Kebijakan ini hanya menguntungkan satu pihak saja. Sebaiknya pemerintah terlebih dahulu meningkatkan kualitas pendidikan di nasional,” tutur Arif.
Beberapa kebijakan lain adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 tahun 2010 tentang Badan Layanan Umum Pendidikan. Menurut Prof HAR Tilaar, PP ini hanyalah ‘baju baru’ saja dan tak ada bedanya dengan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan. “PP itu hanya membuka kesempatan baru bagi kapitalis saja,” ujarnya.
Seminar pendidikan ini merupakan rangkaian acara dari Pekan Nasional Pers Mahasiswa (Pena Emas) yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ selama satu minggu (10-17/1) di UNJ.Oleh Sandra Cattelya/M. Januar
Berpikir Global Bertindak Lokal Ala Persma
Jakarta, suarausu-online.com — Saat ini pers mahasiswa (persma) sebagai pers alternatif diharapkan dapat berpikir global dan bertindak lokal. “Maksudnya, persma jangan sampai menjadi katak dalam tempurung. Harus berpikir secara global dan bertindak kembali ke konteks kelokalan masing-masing,” ucap Rama Dwi Cahya, ketua pelaksana kegiatan Pekan Nasional Pers Mahasiswa (Pena Emas) di Universitas Negeri Jakarta, Senin (10/1).
Kegiatan yang dimotori Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika ini mengusung Glokalitas Pers Mahasiswa sebagai tema. Permasalahan pendidikan di Indonesia pun menjadi pembahasan utama. Pendidikan dianggap belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. “Glokalitas sangat diharapkan khususnya dalam ranah pendidikan,” jelas Rama.
Arif Wahyudin, peserta dari LPM Jumpa, Universitas Pasundan mengatakan pelatihan ini membuat ia lebih paham akan permasalahan dunia pendidikan. “Ternyata terdapat banyak kesalahan-kesalahan dan ‘permainan’ yang dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan,” ujarnya.
Pena Emas sendiri merupakan acara kelanjutan yang sebelumnya diadakan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Catatan Kaki, Universitas Hasanudin, Makassar dua tahun lalu. Acara yang berlangsung selama satu minggu (10-17/1) ini diikuti oleh 38 anggota persma se-Indonesia. Kegiatannya di buka dengan dua seminar nasional, dilanjutkan dengan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut, field trip dan diakhiri kunjungan redaksi ke media massa.(M. Januar)
Kegiatan yang dimotori Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika ini mengusung Glokalitas Pers Mahasiswa sebagai tema. Permasalahan pendidikan di Indonesia pun menjadi pembahasan utama. Pendidikan dianggap belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. “Glokalitas sangat diharapkan khususnya dalam ranah pendidikan,” jelas Rama.
Arif Wahyudin, peserta dari LPM Jumpa, Universitas Pasundan mengatakan pelatihan ini membuat ia lebih paham akan permasalahan dunia pendidikan. “Ternyata terdapat banyak kesalahan-kesalahan dan ‘permainan’ yang dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan,” ujarnya.
Pena Emas sendiri merupakan acara kelanjutan yang sebelumnya diadakan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Catatan Kaki, Universitas Hasanudin, Makassar dua tahun lalu. Acara yang berlangsung selama satu minggu (10-17/1) ini diikuti oleh 38 anggota persma se-Indonesia. Kegiatannya di buka dengan dua seminar nasional, dilanjutkan dengan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut, field trip dan diakhiri kunjungan redaksi ke media massa.(M. Januar)
Tak Akui Paidi, Pema Sekawasan Ajukan Protes di Raker BEMSI
Medan, suarausu-online.com — Keikutsertaan Paidi, Presiden USU terpiilih 2010 dalam Rapat Kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEMSI) pada 2-6 Februari di Medan menimbulkan aksi protes dari Pema Sekawasan USU. Salah satu anggota Pema Sekawasan, Mawardi Saragih, menyatakan saat ini USU tidak memiliki presiden. “Kedatangan kami (Pema Sekawasan-red) ke sana bukan untuk merusuh tapi untuk verifikasi bahwa di USU tak ada presiden,” ujarnya, Senin (14/2).
Rosul, Ketua Panitia Rapat Kerja BEMSI, meyatakan dirinya tak tahu tentang status Paidi. “Pertemuan BEMSI sebelumnya di Bali menyatakan Paidi sebagai Presiden USU. Jadi, kami tahunya Paidi sebagai Presiden USU,” ujarnya, Senin (14/2). Ia juga menambahkan seharusnya permasalahan ini diselesaikan di internal saja jangan dibawa keluar. “Malu kan dengan universitas lain,” tambahnya.
Rapat kerja tersebut akhirnya dapat dilanjutkan dengan lancar. Rapat tersebut menghasilkan empat poin besar yaitu, permasalahan korupsi, reformasi birokrasi, ketahanan pangan dan lingkungan. Rosul yang juga mahasiswa Universitas Panca Budi, menjelaskan empat poin inilah yang paling penting untuk diperhatikan saat ini. “Seharusnya Indonesia tak perlu lagi impor beras,” ujar Rosul saat dihubungi via telepon seluler.
Rosul, Ketua Panitia Rapat Kerja BEMSI, meyatakan dirinya tak tahu tentang status Paidi. “Pertemuan BEMSI sebelumnya di Bali menyatakan Paidi sebagai Presiden USU. Jadi, kami tahunya Paidi sebagai Presiden USU,” ujarnya, Senin (14/2). Ia juga menambahkan seharusnya permasalahan ini diselesaikan di internal saja jangan dibawa keluar. “Malu kan dengan universitas lain,” tambahnya.
Rapat kerja tersebut akhirnya dapat dilanjutkan dengan lancar. Rapat tersebut menghasilkan empat poin besar yaitu, permasalahan korupsi, reformasi birokrasi, ketahanan pangan dan lingkungan. Rosul yang juga mahasiswa Universitas Panca Budi, menjelaskan empat poin inilah yang paling penting untuk diperhatikan saat ini. “Seharusnya Indonesia tak perlu lagi impor beras,” ujar Rosul saat dihubungi via telepon seluler.
Rektorat Belum Kucurkan Dana Pemilu
USU, suarausu-online.com — Dana untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Mahasiswa USU yang rencananya akan dicairkan bulan ini belum diberikan Rektorat USU. Hal ini disampaikan Abdul Rasyid, Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) USU. “Sampai sekarang kami belum menerima dana itu,” ucapnya saat ditemui di Sekretariat Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Fakultas Ekonomi, Jumat (4/3).
KPU USU sebenarnya telah mendatangi pihak rektorat dan membahas masalah dana tersebut kepada Eddy Marlianto, Pembantu Rektor (PR) III USU. Namun dana yang diberikan pihak rektorat dinilai belum cukup untuk menyelenggarakan pemilu. Rencananya KPU hanya diberikan Rp 29 juta. “Tidak cukup, dana yang kami butuhkan kira-kira Rp 50 juta,” ucap Rasyid yang mengaku pihaknya akan menemui PR III kembali.
Rasyid mengeluhkan lambatnya proses pencairan dana. “Sebenarnya, mereka (pihak rektorat -red) harus mengerti dengan kegagalan pemilu lalu,” ucapnya. Ia menjelaskan keterlambatan turunnya dana akan mengganggu kinerja KPU USU.
Selain dana, pembahasan petunjuk pelaksanaan (juklak) oleh pema sekawasan juga menghambat proses pemilu. Saat ini, KPU USU tengah vakum karena menunggu hasil juklak tersebut. (M.Januar)
KPU USU sebenarnya telah mendatangi pihak rektorat dan membahas masalah dana tersebut kepada Eddy Marlianto, Pembantu Rektor (PR) III USU. Namun dana yang diberikan pihak rektorat dinilai belum cukup untuk menyelenggarakan pemilu. Rencananya KPU hanya diberikan Rp 29 juta. “Tidak cukup, dana yang kami butuhkan kira-kira Rp 50 juta,” ucap Rasyid yang mengaku pihaknya akan menemui PR III kembali.
Rasyid mengeluhkan lambatnya proses pencairan dana. “Sebenarnya, mereka (pihak rektorat -red) harus mengerti dengan kegagalan pemilu lalu,” ucapnya. Ia menjelaskan keterlambatan turunnya dana akan mengganggu kinerja KPU USU.
Selain dana, pembahasan petunjuk pelaksanaan (juklak) oleh pema sekawasan juga menghambat proses pemilu. Saat ini, KPU USU tengah vakum karena menunggu hasil juklak tersebut. (M.Januar)
